Mobile Version
m.jambiekspresnews.com

Satu LP, Satu Anjing Pelacak
Jumat, 05/08/2016 - 10:41:30 WIB | Kategori: Kota Jambi - Dibaca: 3760 kali

1.300 Tahanan Narkoban

Mendekam di Lapas Jambi

JAMBI-Peredaran Narkoba di dalam Lapas di Indonesia, bukanlah barang baru termasuk di Jambi.

Tidak hanya beredar di Lapas, para Bandar pun masih bisa mengendalikan bisnis barang haram itu kendati meringkuk di balik jeruji besi.

Dirjend Imigrasi Kemenkum HAM Ronnie F Sompie saat dialog dengan kru redaksi Jambi Ekspres kemarin sore (4/8) tidak menampik masih adanya Narkoba yang beredar di dalam Lapas.

Modus masuk, katanya, bisa dilakukan dengan  berbagai cara. Mulai lewat makanan, dilempar dari luar Lapas dan keterlibatan petugas. Ada yg mengatur sehingga bisa masuk.

‘’Kesulitan kita karena belum memiliki alat deteksi narkoba. Ini bisa dibantu oleh BNN Provinsi Jambi atau Kabupaten. Setidaknya ada anjing pelacak. Baik itu di Lapas, Bandara dan Pelabuhan,’’ katanya di hadapan CEO Jambi Ekspres Sarkawi, Pimpinan Perusahaan Setya Novanto, Pemred M Haramen serta kru redaski lainnya di lantai 2 Graha Pena Jambi Ekspres.

Memberangus narkoba yang masuk ke Lapas, katanya, merupakan komitmen Kemenkumham RI. Lapas harus bebas dari narkoba. Apalagi LP muara dari penegakan hukum.

‘’Menteri sudah menggelorakan semangat agar narkoba tak lagi masuk ke Lapas. Saat ini ada 11 tim berkunjung ke tiga wilayah. Saya dapat tugas di Jambi,’’ katanya.

Menurutnya, masing-masing tim ditugaskan untuk mengecek lapas di tiga provinsi.  Untuk Provinsi Jambi tim yang mengeceknya terdiri dari Direktur Jenderal Imigrasi Kemenkumham RI, Ronny Franky Sompie, Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM RI, Milton Hasibuan dan Kasubdit Bimbingan dan Pengawasan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI, Christina Sri Widyastuti. Mereka juga nantinya akan mengecek seluruh lapas yang ada di Provinsi Riau dan Sulawesi Tengah. 

Artinya, katanya, tujuan dari kunjungannya yakni untuk mendukung keinginan kepala lapas dan memastikan bahwa lapas tersebut bebas dari narkoba. 

"Bapak menteri mengutus kami untuk mengecek dilapangan bagaimana persiapan dan upaya mereka mempersiapkan lapasnya terbebas dari narkoba," kata Ronny. 

Untuk mewujudkannya diperlukan dukungan baik supervisi, bimbingan dan semangat. Dalam kunjungannya pihaknya menemukan beberapa kendala di Lapas Klas II A Jambi seperti jumlah warga binaan yang sudah melebihi kapasitasnya. Selain itu peralatan keamanan juga perlu dilengkapi. 

"Kalau masalah SOP sudah berjalan sesuai prosedur, kalau ada yang perlu diperbaiki nanti kita berikan arahan.  Informasi yang kita kumpulkan dari lapas seluruh Indonesia nantinya akan dikaji lagi, " jelasnya. 

Guna menekan peredaran gelap narkoba, Ronny menerangkan dia bersama timnya juga berkunjung ke Polda Jambi dalam rangka silaturrahmi juga meningkatkan hubungan kerja sama yang selama ini sudah berjalan. 

"Tujuannya ya sebagai upaya bersama dalam mencegah masuknya narkoba," tandasnya.

‘’Indonesia tidak produksi narkoba, kecuali ganja. Ada  di beberapa daerah yang bisa ditumbuhi tanaman ganja. Narkoba hanya diproduksi di luar negeri. Makanya kita harus melakukan penanggulangan. Kalau pemberantasan tugas aparat penegak hukum,’’  jelasnya.

Sementara itu, Kalapas Kelas IIA Jambi Djarot Sugiharto, mengatakan, pihaknya tentu seketat mungkin melakukan pemeriksaan untuk setiap tamu yang masuk ke Lapas. Ini untuk menjaga agar barang haram seperti Narkoba masuk ke dalam Lapas.

‘’Kini, siapapun yang masuk harus ada penggeledahan, handhone harus dititipkan di loker.

Lalu, bagaimana dengan masih adanya petugas yang bermain dengan Bandar Narkoba? Kakanwil Kemenkumham Provinsi Jambi Dwi Prasetyo Santoso, mengatakan, tindakan dari Kemenkumham Wilayah Jambi, tetap mengacu pada perintah Menteri tanpa pengecualian. Petugas yang berbuat diberhentikan.

‘’Saat ini 4 orang yang sudah diberhentikan. Lapas Tebo ada satu orang yang sedang dalam pemeriksaan,’’ katanya.

Dwi juga mengatakan, Survei sudah dilakukan Kanwilkumham Jambi. Total warga binaan di Lapas Kelas IIA Jambi sebanyak 3.600 orang. 1.300 di antaranya adalah Napi kasus Narkoba.

Saat ini, Lapas Jambi sudah overload.

‘’Narapidana perempuan hampir 150 orang. Artinya, sudah memenuhi persyaratan untuk dibangun LP perempuan. Lahan sudah disiapkan 4 hektar samping LP anak di Batanghari. Karena tidak disahkan dalam APBN rencana pembangunan tertunda. Kita dapat gambaran di 2017 nanti akan dianggarkan. Untuk membangun LP harus didukung Pemerintah Provinsi dan Kabupaten,’’ pungkasnya.

Selain mengunjungi Lapas Kelas IIA Jambi, Ronnie juga mengunjungi Lapas Kelas II B Kualatungkal dan Lapas Anak Muarabulian. Beberapa catatan dibawa Dirjend dari beberapa Lapas tersebut. (fth/cok/sun/adi)

 

 

 

 

 

 







BERITA TERKAIT :



0 Komentar :






  Terkini  
  Terpopuler  
  Komentar