Harga Karet Jambi Melonjak

Kamis, 21 April 2016 | 11:11:35 WIB | Dibaca: 3760 Kali


 

Jika ingin harga karet normal, harus ciptakan kualitas yang bagus, bangun industri hilir dan tidak tergantung dunia.

Syamsurizal TAN

Ekonom

 

Pengamat Pesimis Bisa Bertahan Lama

Disbun  Sebut Harga Indikasi

 

MUARA BUNGO-Harga  komuditi karet yang notabenenya merupakan salah satu primadona Provinsi Jambi mulai membaik. Bahkan, di Bungo, harganya melejit tinggi.

Data yang berhasil dihimpun koran ini, di Bungo, harga karet dalam sepekan terakhir sudah mencapai angka Rp 15.400 per kilogram. Jumlah ini naik drastis jika dibandingan dengan pekan-pekan kemarin yang berada pada angka Rp 4.500 – Rp  7.000 saja.

Hanya saja, di Tebo, harga karet justru masih berkisar pada angka Rp 7 ribu di daerah  7 Koto, sedangkan di Tebo Ulu dan Tebo Ilir sudah mencapai angka Rp 10 ribu.

Di Muaro Jambi harga karet juga naik, tapi tidak secara signifikan. Informasi yang berhasil diperoleh, kenaikan terjadi dari angka Rp 5.550 perkilogramnya menjadi Rp 6.300.

Berbeda dengan Batanghari, harga jual hari ini (kemarin, red), harga karet tetap berada pada angka Rp 6.500 perkilo.

‘’Tadi pagi Saya jula Rp 6.500 perkilo,’’ ujar Supriadi, salah satu petani karet di Pemayung, Batanghari.

Sementara itu, naiknya harga komuditi karet di Kabupaten Bungo sangat ditunggu-tunggu oleh petani karet Bungo. Pasalnya,rendahnya harga karet dua tahun terakhir membuat sebagian besar masyarakat Bungo yang bergantung hidup dari hasil karet tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Diketahui, dua tahun terakhir harga karet di Bungo hanya berkisar antara Rp.4.500 – Rp. 7.000 saja. Namun, sepekan terakhir harga karet di Bungo naik hingga mencapai Rp 15.400 per kilogramnya. Hal tersebut berdasarkan data dipasar lelang yang ada di Kabupaten Bungo.

Kabid Perdagangan Disperindag Kabupaten Bungo, Syarif saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, bahwa peningkatan harga sudah terjadi sejak sepekan terakhir.

"Seminggu lalu ada rapat koordinasi di Novita Hotel Jambi, ada orang Kementrian, kemudian petani, toke dan pihak-pihak terkait, sejak saat itu dengan sendirinya harga karet naik," jelas Syarif.

Disampaikannya, dengan naiknya harga komoditi karet yang relatif stabil bakal meningkatkan kesejehteraan masyarakat.

"InsyaAllah ekonomi masyarakat kita meningkat, terlebih harga kebutuhan pokok stabil karena stok terpenuhi. Beberapa bahkan turun harga seperti cabai dan bawang," paparnya.

Oleh sebab itu, dirinya berharap petani karet tarus menjaga kwalitas produksi karet di Bungo.

"Kalau kwalitas kita terjaga, harga karet akan terus tinggi karena pengusaha memang butuh karet ‎dengan kualitas baik," tutupnya.

Terpisah, Azroni salah satu petani karet di Bungo mengatakan, sangat senang mendengar naiknya harga karet di Bungo, dan dirinya berharap kedepan harga karet tidak turun drastis lagi seperti sebelumnya.

“Sudah sepekan ini harga karet di pasar lelang Bungo mencapai Rp 13.500 perkilonya, dan sekarang kami dapat informasi kalau hari ini naik lagi menjadi Rp 15.400 per kilogram, kami sangat berharap harga karet di Bungo tetap berjalan normal dan tidak turun lagi,” harapnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Putri Rainun mengatakan,    jika harga sebesar Rp 15.400 itu adalah harga indikasi dari Gapkindo. Dirinya tidak meyakini bahwa harga karet di petani sudah  mencapai harga segitu.

“Minggu kemarin saja  harga indikasi Rp 15.200. Yang saya tahu itu  minggu lalu saja harga di pasar lelang masih Rp 13.200,” katanya.

Berdasarkan informasi darinya,  saat ini untuk harga karet petani yang dijual ke tengkulak sebesar Rp 5.500. Sedangkan harga karet yang dijual  melalui  UPPB  diatas Rp 7.000 ribuan tergantung umur simpan karet.

Pengamat Ekonomi Jambi, Samsurizal mengatakan, kenaikan harga karet itu memang prilaku produk pertanian. Samsurizal tidak terlalu optimis harga akan bertahan lama.  “Ini hukum pasar,” katanya.

Kemungkinan, karet di pasaran tidak terlalu banyak, karena selama ini harga karet rendah sehingga suplai karet di pasar tertahan oleh produsen.  “Suplai kurang harga naik, wajar saja,” jelasnya.

Mekanisme itu biasa. Apalagi ekonomi dunia belum begitu baik dan dimain terhadap karet tidak begitu bagus.  “Dugaan Saya tidak begitu lama. Jika ingin harga karet normal, harus ciptakan kualitas yang bagus, bangun industri hilir dan tidak tergantung dunia. Apalagi negara competitor karetnya banyak yang bagus,’’ katanya.

“Kalau ekonomi dunia bagus baru harga karet bagus,” imbuhnya.

(hnd/era/adi/bjg/fth)